Seputar Peradilan

PA Kayuagung : Isbat Nikah Terpadu Kabupaten Ogan Ilir Lebih Dari Harapan

Kegiatan Itsbat Nikah Terpadu di Kabupaten Ogan Ilir yang dilaksanakan pada tanggal 6 April 2018 di Aula Caram Seguguk Pemda Ogan Ilir merupakan bentuk kerja sama antara tiga instansi pemerintah yaitu Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Pengadilan Agama Kayuagung dan Kementerian Agama Kabupaten Ogan Ilir. Pengadilan Agama Kayuagung menjadi penggerak terlaksananya Itsbat Nikah Terpadu di Kabupaten Ogan Ilir dengan dasar hukum Perma Nomor 1 Tahun 2015 tentang Pelayanan Terpadu Sidang Keliling Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama/Mahkamah Syar’iyah dalam rangka Penerbitan Akta Perkawinan, Buku Nikah dan Akta Kelahiran dan dalam kepanitiaan Itsbat Nikah Terpadu Pengadilan Agama Kayuagung diketuai oleh Bapak Waluyo, S.Ag., M.HI.

Di sela-sela kesibukan Bapak Waluyo, S.Ag., M.HI. telah memberikan penjelasan mengenai pelaksanaan Itsbat Nikah di Kabupaten Ogan Ilir melalui wawancara langsung.

Waluyo S.Ag. M.H.I. Hakim 19750106 200604 1 001

Bagaimana proses pelaksanaan itsbat nikah terpadu di Kabupaten Ogan Ilir secara umum?

Alhamdulillah, Itsbat Nikah Terpadu untuk tahap pertama pada hari Jumat, 06 April 2018 sebanyak 100 perkara disidangkan dan berjalan lancar sesuai harapan, untuk internal Pengadilan Agama Kayuagung telah berjalan secara matang karena jauh-jauh sebelumnya telah dipersiapkan segala sesuatunya baik itu yang berkaitan dengan SDM, perangkat keras yang akan digunakan dan aplikasi penunjang sebagai alat kerja Pengadilan Agama Kayuagung.

Itsbat Nikah Terpadu tahap kedua nanti akan dilaksanakan pada hari Jumat, 13 April 2018 sebanyak 100 perkara dan tahap ketiga pada hari Jumat, 20 April 2018 sebanyak 100 perkara, jadi Itsbat Nikah Terpadu untuk Kabupaten Ogan Ilir dilaksanakan sebanyak tiga tahap untuk tahun 2018.

Apakah kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan Itsbat Nikah Terpadu di Kabupaten Ogan Ilir?

Kendala itu pasti ada baik teknis maupun non teknis, apalagi untuk pertama kali dilaksanakan di Kabupaten Ogan Ilir dengan melibatkan tiga instansi, namun lagi-lagi sebesar apa kendala yang dihadapi itu masih dalam koridor yang wajar. Salah satu contoh dalam pelaksanaan terkendala oleh alat cetak (printer) yang kita gunakan sangat lambat dalam mencetak sehingga waktu banyak teralokasi saat mencetak Penetapan dan Berita Acara Sidang, kendala lain saat sidang sedang berlangsung suara peserta itsbat sangat ramai karena tempat sidang dilaksanakan berada dalam satu lokasi dengan para pihak yang menunggu antrian.

Apakah terdapat mekanisme pelasanaan berbeda dengan Itsbat Nikah Terpadu kali ini dengan pelaksanaan Itsbat Nikah Terpadu yang diselenggarakan sebelumnya?

Untuk pelaksanaan sidang kali ini jauh berbeda dengan pelasanaan sidang Itsbat Nikah Terpadu yang dilaksanakan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, tiga instansi yang terkait telah membuat komitmen agar pelayanan ini benar-benar terpadu tanpa kompromi, jadi hari itu sidang Salinan Penetapan harus selesai oleh Pengadilan, Buku Nikah harus tercetak oleh Kementerian Agama dan Akta Kelahiran harus terbit oleh Dukcapil. Hal inilah yang memicu Pengadilan Agama Kayuagung untuk memberdayakan alat kerja SIADPA untuk digunakan pada saat sidang Itsbat Nikah berlangsung dan terbukti sangat efektif karena antara Permohonan, Berita Acara Sidang dan Penetapan saling terintegrasi dan tidak terdapat lagi kesalahan di antara ketiga komponen tersebut, terlebih lagi saat itupun berkas siap untuk diminutasi.

Apakah 100 perkara yang diajukan dalam itsbat nikah terpadu seluruhnya dikabulkan?

Untuk tahap ini tidak semua dikabulkan, di antara 100 yang disidangkan hanya 95 yang dikabulkan dan 5 yang diputus gugur, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar jalannya sebuah perkara Itsbat Nikah dapat dikabulkan, diantaranya pasangan suami isteri harus kedua-duanya hadir saat sidang berlangsung, tidak boleh hadir hanya seorang atau diwakilkan kepada orang lain, sesuai dengan Perma Nomor 1 Tahun 2015, menghadirkan 2 orang saksi yang tahu langsung saat prosesi pernikahan pasangan suami isteri, pernikahannya dilakukan secara Hukum Islam dan tidak melanggar norma-norma Hukum Islam atau harus memenuhi rukun dan syarat yang telah ditetapkan. Jika kedua belah pihak tidak hadir saat sidang berlangsung Pengadilan akan mengeluarkan produknya putusan gugur, jika salah satu pihak hadir produk penetapan NO (tidak diterima) dan jika tidak memenuhi norma agama Islam maka produk putusan Tolak.

Bagaimana solusi bagi pihak yang perkaranya tidak dikabulkan?

Solusinya ya..... tergantung dari jenis putusan/penetapan yang telah diterbitkan Pengadilan, bisa mengajukan lagi ke pengadilan agama khusus untuk produk putusan/penetapan pengadilan berupa putusan/Penetapan gugur dan NO. Namun jika produknya berupa putusan tolak maka tidak lain hanya bisa mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung atas keberatan terhadap putusan tingkat pertama.

Apakah harapan bapak ke depan dalam melaksanakan Itsbat Nikah Terpadu?

Harapan saya ke depan pelayanan Itsbat Nikah Terpadu bisa berjalan secara maksimal untuk mewujudkan pemerataan pelayanan kepada masyarakat (justice for all), edukasi kepada masyarakat agar melek hukum dan digunakan oleh Pemerintah setempat sebagai instrumen atau bahan ukur bahwa ternyata pelayanan pencatatan nikah selama ini banyak menjumpai kendala di lapangan hingga tidak tercatatkan pernikahannya, kendala itu bisa bersinggungan dengan finansial keuangan, jarak jauh dengan lokasi pencatatan nikah, masyarakat lalai mencatatkan nikahnya. Dengan kendala itu Pemerintah bisa membuat strategi yang ideal agar pernikahan tidak lagi berlarut-larut tidak tercatatkan dan Pengadilan Agama hanya mengitsbatkan perkawinan-perkawinan yang lalu-lalu, karena khawatirnya jika masyarakat memaknai Itsbat Nikah sebagai alternatif bagi pernikahannya tidak tercatatkan baik yang lalu-lalu atau kasus itu terjadi di kemudian hari, maka pernikahan yang tidak tercatatkan akan tetap marak sedangkan kita tahu bahwa pernikahan itu harus tercatatkan, hal ini telah tegas dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Di penghujung wawancara Bapak Waluyo, S.Ag., M.HI. menjelaskan bahwa untuk tahun 2018 Pengadilan Agama Kayuagung akan mengitsbatkan sebanyak 300 pasangan suami isteri dan bisa jadi itu berlanjut untuk tahun 2019 nanti akan dikoordinasikan dengan pihak Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir, jika tetap berlanjut akan dibuat MoU baru nantinya, namun kita belum tahu berapa kuota yang akan didaftarkan untuk tahun 2019. Terangnya sambil tersenyum.