Selamat Datang Di Situs Resmi Pengadilan Agama Kayuagung | Hati hati terhadap Tindakan Penipuan yang mengatasnamakan Pengadilan Agama Kayagung | Laporkan segala Tindak Penipuan ke https://siwas.mahkamahagung.go.id atau Layanan Meja Informasi & Pengaduan Pengadilan Agama Kayaugung
Halal Bihalal PA Kayuagung : Tradisi yang Dikembangkan
Berita Utama

Halal Bihalal PA Kayuagung : Tradisi yang Dikembangkan



Halal bihalal adalah kegiatan silaturahmi dan saling bermaafan. Saling memaafkan dan shilaturrahim merupakan bagian dari Risalah Islam dan tidak terbatas saat Idul Fitri. USAI Idul Fitri, biasanya kita mengadakan halal bihalal. Apa makna, arti, atau pengertian halal bihalal?

 

“Halal bihalal adalah tradisi sangat baik, karena ia mengamalkan ajaran Islam tentang keharusan saling memaafkan, saling menghalalkan, kekhilafan antara kita sebagai manusia,” kata Ketua Pengadilan Agama (PA) Kayuagung Drs. H. Azkar, SH, saat memberikan kata sambutan dalam acara Halal Bihalal aparatur PA Kayuagung di ruang lobby utama, Rabu (12/7) kemarin.

 

Selain menyampaikan hakikat halal bihalal, Drs. H. Azkar, SH, juga memaparkan hasil rakor PTA Sumatera Selatan (Sumsel) yang dipadukan dengan acara pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan Wakil Ketua PTA Sumsel pada Selasa (11/7). “Salah satu hasil rakor dan pembinaan yang kami hadiri kemarin (Selasa.Red), bahwa pak Wakil PTA Sumsel menekankan disiplin pegawai ditingkatkan, kedisiplinan itu termasuk bagian dari kebersamaan yang harus dirajut dan dijadikan tradisi dalam bekerja,” tegasnya.

 

Kebersamaan yang dimaksudkan ialah aparatur PA Kayuagung memahami tugas dan pokoknya masing-masing. Tradisi menjalankan kinerja sesuai tugas dan pokok tersebut, jika dilakukan secara bersama-sama, hasilnya pun bernilai guna dan berhasil guna.

 

Ketua PA Kayuagung itu juga mengajak para hakim, pejabat struktural, pejabat fungsional, dan para pegawai untuk mengedepankan aspek profesionalisme dan proporsionalisme. Kenaikan kelas PA Kayuagung yang semula kelas II menjadi kelas IB, harus dimaknai positif dan penuh rasa syukur, salah satu bentuknya dengan cara merajut kebersamaan dan kekompakan.

 

“Marilah kita jaga kekompakan kita, dengan diterimanya SK kenaikan kelas PA Kayuagung menjadi kelas IB, tentunya ini anugerah bagi kita semua atas prestasi kerja selama ini, momentum halal bihalal ini, saya mengajak kita untuk menjaga diri dan mawas diri,” papar Drs. H. Azkar, SH.

 

Inti Halal Bihalal: Silaturahmi dan Saling Memaafkan

 

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan halal bihalal sebagai “acara maaf-memaafkan pada hari Lebaran”. Menurut Tafsir Ibnu Katsir, halal bihalal merupakan kata majemuk yang terdiri atas pengulangan kata bahasa Arab halal diapit satu kata penghubung ba (baca, bi).  Dikatakan, meski dari bahasa Arab, yakinlah, orang Arab sendiri tidak akan mengerti makna sebenarnya halal bihalal karena istilah halal bihalal bukan dari Al-Quran, Hadits, ataupun orang Arab, tetapi ungkapan khas dan kreativitas bangsa Indonesia. 

 

Ibnu Katsir memberi catatan, tujuan hahal bihalal adalah menciptakan keharmonisan antara sesama. Kata “halal” biasanya dihadapkan dengan kata haram. Haram adalah sesuatu yang terlarang sehingga pelanggarannya berakibat dosa dan mengundang siksa. Sementara halal adalah sesuatu yang diperbolehkan dan tidak mengundang dosa. 

 

Jika demikian, halal bihalal adalah menjadikan sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram dan berakibat dosa, menjadi halal dengan jalan mohon maaf. Bentuknya (halal bihalal) memang khas Indonesia, namun hakikatnya adalah hakikat ajaran Islam.

 

Halal Bihalal di PA Kayuagung, menjadi nuansa berkumpul para Hakim, Sekretaris, Panitera, para Kasubbag, para Panitera Muda, pada Panitera Pengganti, para Jurusita dan Jurusita Pengganti, para Aparatur Sipil Negara dan para tenaga honorer yang bekerja sejak pagi hingga petang mulai Senin hingga Jumat, untuk saling memaafkan dalam suasana lebaran. Halal bihalal adalah sebuah tradisi khas umat Islam di Indonesia dan faktanya, halal bihalal merupakan kegiatan silaturahmi atau silaturahim dan menyambung tali silaturrahmi (shilaturrahim) merupakan bagian dari Risalah Islam dan tidak terbatas saat Idul Fitri.

 

Sebagai penutup, acara tersebut dipimpin doa oleh Ustadz Waluyo, S.Ag, M.H.I dan diakhiri dengan salam-salaman, saling maaf-memaafkan dan santap siang bersama-sama. (AM)